Aliran Strukturalisme

Kata pengantar

 

          Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan yang maha esa yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga  penulis dapat mengikuti dan menyelesaikan makalah  ini salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah teori antropologi modern.

          Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing mata kuliah yang telah membimbing kami dalam melakukan pembelajaran.

          Akhirnya penulis menyadari dalam pembuatan makalah  ini masih banyak terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah, oleh karena itu saya mengharapkan masukan dan saran-saran agar makalah  ini menjadi lebih baik.

 

 

 

                                                                                                          

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR  ………………………………………………………………………….    1

DAFTAR ISI  ……………………………………………………………………………….…….    2

 I.        PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang…………………………………………………………    3

           II.      PEMBAHASAN

2.1   Strukturalisme Claude Levi-Straus…………………………………       4

2.2   Linguistik Strukturalisme………………………………………….    6

2.3  Strukturalisme Tentang Ritual………………………………….     7

2.4  Strukturalisme Di Inggris Dan Antropologi Kongnitif

                           di  Amerika Serikat……………………………………………………   8

2.5  Strukturalisme, Positivism, dan Marxisme………………..     9

           III.     PENUTUP

3.1  Kesimpulan………………………………………………………………. 11

3.2  Saran……………………………………………………………………….. 11

   DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………     12

 

 

 

 

BAB I

 Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Analisis strukturalisme sebenarnya sudah muncul pada tahun 1903, jauh sebelum Claude levi-Strauss, yakni tatkal Durkheim dan Marcel Mauss menerbitkan karya mereka, Primitice Classification (1963), yang merupakan upaya  mereka merekonstruksi asal usul pemikiran logis dalam kesadaran kolektif masyarakat yang paling purba. Ketika berhadapan dengan masalah yang berkaitan dengan bahasa, Durkheim dan Mauss menggunakan pendekatan yang berbeda dari mereka yang kelak disebut strukturalis. Kedua tokoh ini berpendapat bahwa taksonomi dunia alamiah terlalu kompleks bagi pemikiran manusia untuk mengonstruksi secara individual, jika hanya mengandalkan kemampuan pikiran belaka. Itulah sebabnya klasifikasi yang demikian itu pada mulanya kolektif. Selanjutnya, Durkheim dam Mauss berpendapat bahwa struktur taksonomi alam tidak dapat berasal hanya dari pengamatan sederhana terhadap alam. Hierarki family dan generalisasi tidak empiris. Oleh karena itu, mereka menyimpulkan bahwa masyarakat juga menyediakan struktur, dan klasifikasi alam dibangun berdasarkan struktur tersebut.

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

2.1 Strukturalisme Claude Levi-Strauss

Strukturalisme yang diusung oleh antropolog Prancis, Claude Levi-strauss selama tahun 1950-an, orang terkait dengan structurall fungsionalisme radeliffe Brown dan pengikutnya. Baik strukturalisme Levi-Strauss maupun structural fungsionalisme Radelife Brown sangat dipengaruhi teor-teoriDurkheim. Perbedaan pokok adalah bahwa Radeliffe-Brown mempelajari keteraturan dalam tindakan sosial, yang ia lihat sebagai ekspresi struktur social yang dibentuk oleh jaringan-jaringan dan kelompok-kelompok, sedangkan levi-strauss berpendapat bahwa struktur itu berada dalam pikiran manusia, dan memandang interaksi social sebagai manifestasi keluar dari struktur kongnitif tersebut. Strukturalisme dipertentangkan dengan teori Marxis bahwasanya keyakinan dan gagasan manusiadi tentukan oleh kondisi material dari keberadaannya. Di amerika srikat, antropologi kongnitif mengembangkan pendekatan yang sejajar dengan analisis struktur kebudayaan selama tahun 1960-an dan 1970-an yang berupaya mengungkapkan seperti halnya Levi-Strauss- kekerabatan, komunikasi simbolik, dan klasifikasi asli mengenai alam. D’Andrede mengemukakan bahwa adalah perkembangan logika tiruan dalam bahasa computer selama tahun 1950-an yang menstimulasi kepentingan untuk menemukan logika alam dari otak manusia selama decade-dekade berikutnya (1995: 10).

 

Levi-Strauss mengembangkan teori-teori strukturalisme dalam dua arah:

  1. Dalam analisisnya mengenai struktur sistem kekerabatan ,
  2. Dalam kajiannya tentang struktur mite dan totemisme.

Kajiannya mengenai kekerabatan berpusat pada penemuan adanya aturan-aturan perkawinan yang sama diberbagai masyarakat di Australia, Asia dam Amerika yang tidak ada kaitan sejarah satu sama lain. Semua masyarakat ditandai oleh aturan-aturan bahwa seseorang harus menikah dengan sepupu-silangnya Dalam sistem aliansi yang dikaji Levi-strauss, lineage-lineage yang juga tetap eksogami lebih kecil, mungkin hanya beranggotakan hanya 50-100 orang. Lineagelain melalui pertukaran secara regular pasangan perkawinan. Genarasi pengganti dari satu lineage diharapkan akan kawin dengan lineage yang lain. Sebagai konsekwensi, sepup-silang seeorang akan menjadi rujukan sebagai pasangan ideal bagi perkawinan.

            Levi-Strauss tentang Mite dan Totemisme

Monografi Levi-strauss yang paling awal tentang struktur mite dan ritual adalah La Pensee Sauvage (1962), yang diterjemahkan menjadi The Savage mind (1966). Di sini Levi-Straus mengembangkan pemikiran Duekheim dan Mauss dalam primitive Classification dan pemikiran Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life. Ia memengemukakan bahwa kebudayaan berskala-kecil tampaknya membangun dunia alamiah secara acak,nyata, dan arbitrer dengan mewujudkan symbol-simbol yang mereprentasi gagasan, nilai-nilai dan suasana psikologi rasa cemas ddan kawatir warga komunitas tersebut. Keadaad ini tampaknya universal bagi manusia untuk membangun keteraturan melalui skema klasifikasi.

2.2   Linguistik Strukturral

Penting kita catat bahwa strukturalisme sebagai suatu paradikma dalam antropologi tidaklah semata-mata diusung oleh Levi-strauss, meskipun nama tokoh ini telah menjadi label sentral dalam paradikma ini. Apabila dicermati lebih jauh keluar pemikiran Levi-strauss, ada beberapa pemikiran teori juga yang membangun pemahaman structural menurut focus perhatian dan arah yang berbeda. Ferdinan de Saussure. Menyampaikan gagasannya tentang teori struktural dalam linguistik melalui serangkaian kuliah umum di jenawa tatkala Durkheim tengah mengembangkan teorinya tentang totemisme.

Beber     apa penulis selanjutnya beranggapan bahwa Saussure hanya menafsirkan model Durkheim tentang klan dan totemisme sebagai kasus khusus mengenai fenomena yang lebih umum, dan mengembangkannya menjadi suatu teori umum tentang komunikasi melalui tanda (lihat, misalya, Berthes, 1967). Saussure mengemukakan isu dengan gagasan bahwa bahasa bermula dari peniruan bunyi-bunyi, sehingga pesan “anjing” dikomunikasikan dengan bunyi “menyalak”atau pesan “lebah” melalui bunyi “mendengung”. Seperti halnya Roesseau, ia menyadari bahwa dalam semua bahasa yang sudah punah, kebanyakan kata-kata mengandung makna dari pertautan (asosiasi) arbiter atau konvensional dari bunyi dan makna. Bunyi adalah penanda (signifier), sedangkan gagasan adalah yang ditandai (signified). Bersama-sama keduanya menunjukkan suatu tanda linguistik.

2.3   Strukturalisme Tentang Ritual

Lapangan perhatian lain yang penting dalam strukturalisme adalah ritual. Funsionalis seperti Malinowski dan Radeliffe-Brown mengadopsi pernyataan Durkheim bahwa agama “merefleksikan” struktur dari sistem sosialnya, dan fungsi untuk memelihara sistem tersebut dari masa ke masa. Variasi mite-mite sebagaimana dituturkan oleh orang-orang disekitar dipandang mencerminkan perbedaan-perbedaan sistem-sistem social mereka. Sistem politik yang terpusat diasosiasikan dengan keyakinan pada satu tuhan yang maha tinggi, yang kurang memiliki makhluk-makhluk yang lebih rendah sebagai perantara dirinya dengan manusia biasa. Sistem politik yang tidak tersentralisasi akan diasosiasikan dengan agama-agama dmana terdapat sejumlah dewa dengan status yang stara. Secara khusus, masyarakat yang berasaskan gars keturunan (lineage-based) seperti masyarakat Nuer dan Tallensi dapat dikaitkan dengan pemujaan nenek moyang.

Di eropa, para antropolok yang lebih dekat hubungannya dengan Durkheim mengikuti proposisi bahwa suatu sistm kepercayaan dalam kebudayaan memiliki logika internal yang memberikan makna bagi tindakan ritual. Seperti halnya aliran inggris, mereka bereaksi terhadap penulis-penulis sebelumnya yang menafsirkan adat sebagai survival dari yang dianggap tahap-tahap sebelumnya dalam evolusi social manusia. Para penulis seperti  hertz (1960[1909]) dan van Gennep (1960[1950]) berargumen bahwa makna setiap adat harus diangkat (didedukasi) dari tempatnya dalam struktur kongnitif. Dalam tulisannya, “The Preeminence of the  Rinht Hand” (dalam Hertz, 1960), Hertz mendokumentasikan suatu kecenderungan umum diantara banyak kebudayaan untuk mengasosiasikan tangan kanan dengan kekuatan tangan kanan dengan kekuatan dan keteraturan, dan dengan tangan kiri dengan kekacauan dan kelemahan. Ia menyimpulkan bahwa oposisi structural antara kanan dan kiri bermakna bagi oposisi yang lebih umum antara benar dan salah.

2.4   Strukturalisme di Inggris dan Antropologi Kongnitif di Amerika Serikat

Pemikiran strukturalisme juga berkembang di Inggris pada tahun 1960-an. Analisis strukturalis dari antropolog Inggris yang pertama dan paling berpengaruh adalah Mary Douglas, melalui tulisannya, purity and Danger (1966). Douglas mengusulkan bahwa gagasan kitab suci mengenai ketidakmurnian (impurity) bisa diiluminasikan dengan mempelajari kedudukan yang murni dan yang tidak murni dalam agama yang dianut masyarakat berskala kecil. Douglas berargumen bahwa keyakinan tentang apa yang murni dan bagaimana ia kekolahseharusnya tdak dipahami sebagai evolusi pengetahuan mengenai hygiene. Melainkan sebagai rangkaian symbol yang tersimpan dalam suatu sistem struktural.

Ahli antropologi kongnitif Amerika menerapkan konsep-konsep strukturalis Jakobson untuk menganalisis Terminologi kekerabatan dan taksosnomi indigenos, sehingga menyejajar dengan kejadian Levi-Strauss tanpa di pengaruhi olehnya. Sejarah antropologi kongnitis dari D’Andrade, misalnya , hanya menggunakan sedikit mengacu kepada Levi-Strauss (D’Andrade, 1995: 248). Karya Antropologi Kongnitif Amerika  dapat diilustrasikan oleh kajian lounsbury mengenai terminology kekerabatan orang Crow-Omaha dan kajian dari Charles O.Frake  mengenai klafisikasi sakit pada orang Subanam di Filipina.    

2.5   Strukturalisme, Positivisme, dan Marxisme

Strukturalisme dan Positivisme

dalam pendekatan positivisme peneliti mulai dengan mengumpulkan data empiris, dan kemudian berupaya mengungkapkan apa yang ada “di balik data”untuk melakukan eksplanasi dan menemukan pola: pencarian ini terdiri dari pengkonsepsian hubungan antarvariabel yang secara formal dinyatakan dalam bentuk hipotesis. Akhirnya, peneliti akan kembali ketingkat empiris untuk melakukan konfirmasi. Pendapat bahwa cirri-ciri ini hanya berlaku untuk pendekatan indifidu adalah tidak tepat. Levi-strauss tidak menentang pengombinasian antara analisis dan dialektik. Dalam penelitian awalnya tentang kekerabatan dan tentang mite Asdiwal (1963, lihat juga Bohannan dan Glazer, 1988), levi-strauss menunjukkan bagaimana mengintegrasikan prinsip-prinsi ilmu empiris dan strukturalisme.

            Srukturalisme dan Marxisme

          Apakah Levi-Strauss seorang Marxis dan apakah Marxisme adalah suatu bentuk strukturalisme? Oleh karena Levi-Strauss tak pernah mangatakan bahwa diringya strukturalis, dank arena Marx sendiri menolak bahwa dia seorang Marxis, tentu saja kita berada ditengah-tengah padang pasir yang goyah (Barrett, 1987:216). Justru yang mengherankan, Levi-Strauss mengaku dirinya Marxis. Ia mengatakan bahwa Marxisme adalah salah satu dari tiga pemikiran yang dipujanya. Ia mengakui  bahwa satu-satunya keinginannya adalah menggarap konsep suprastruktur seperti halnya Marx menggarap konsep infrastruktur (1966: 130). Ia bahkan menganggap penting (memberikan prioritas) transformasi social di atas ideology, dan mengakui bahwa teorinya mengenai suprastruktur semata-mata hanyalah “baying-bayang di dinding Gua” (1966: 117).   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s